Briopini.com – Ada pepatah lama yang mengatakan, semakin tinggi pohon, semakin kuat ia diterpa angin. Begitu pula seorang senior. Semakin lama pengalaman yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikul.
Seorang senior bukan sekadar lebih tua dalam usia atau lebih lama duduk di kursi jabatan. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah, cermin yang memantulkan nilai, dan sekolah berjalan bagi mereka yang baru belajar melangkah.
Namun, apa jadinya jika kompas itu sengaja diputar ke arah yang salah?
Yang lebih menyedihkan bukan ketika seorang junior berbohong karena belum memahami arti integritas. Yang memprihatinkan adalah ketika kebohongan justru diajarkan oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga nilai.
Kebohongan kemudian dibungkus dengan kalimat-kalimat indah: “demi menjaga marwah daerah”, “demi nama baik”, atau “demi kepentingan bersama”. Seolah-olah dusta akan berubah menjadi kebenaran hanya karena dibungkus dengan pita patriotisme.
Padahal, marwah tidak pernah lahir dari kebohongan. Marwah dibangun oleh keberanian mengakui kenyataan, meski pahit rasanya.
Ibarat mengecat tembok yang retak, warna cat memang tampak indah dari kejauhan. Tetapi retaknya tetap ada, bahkan perlahan semakin melebar hingga akhirnya merobohkan seluruh bangunan. Menutupi fakta hanyalah mempercantik keruntuhan.
Yang lebih ironis, sikap picik itu dipertontonkan tanpa rasa malu. Seolah kejujuran adalah kelemahan, sementara kepura-puraan dianggap kecerdasan. Tepuk tangan mungkin terdengar sesaat, tetapi sejarah selalu mencatat siapa yang memilih berdiri di atas kebenaran dan siapa yang sibuk membangun panggung sandiwara.
Ketika seorang senior kehilangan nurani, ia tidak hanya kehilangan dirinya sendiri. Ia sedang mewariskan budaya yang berbahaya kepada generasi berikutnya. Junior akan belajar bahwa berbohong adalah keterampilan, bukan penyimpangan. Bahwa membela kepentingan kelompok lebih penting daripada membela kebenaran.
Padahal, kebohongan tidak pernah benar-benar melindungi siapa pun. Ia hanya menunda datangnya kenyataan. Cepat atau lambat, topeng akan jatuh, dan yang tersisa hanyalah wajah asli yang selama ini disembunyikan.
Seorang senior semestinya dikenang karena keberanian menjaga integritas, bukan karena kepiawaiannya merangkai alasan untuk membenarkan kebohongan. Sebab jabatan akan berakhir, usia akan menua, tetapi teladan—baik maupun buruk—akan terus hidup dalam ingatan mereka yang pernah melihat dan mendengarnya.
Dan ketika kebohongan mulai dianggap biasa, sesungguhnya yang sedang sekarat bukan hanya kejujuran, melainkan nurani itu sendiri.







