Briopini.com- Menjadi dokter membutuhkan proses pendidikan panjang sekaligus biaya yang tidak sedikit. Bagi mahasiswa jalur mandiri, biaya masuk dan SPP menjadi salah satu beban utama. Dengan SPP sekitar Rp10 juta per semester selama kurang lebih empat tahun, ditambah biaya pendidikan dan kebutuhan lainnya, total biaya hingga menyelesaikan pendidikan dokter muda diperkirakan mencapai sekitar Rp750 juta.
Jika dihitung hingga tahapan internship dan proses lanjutan, total investasi pendidikan seorang dokter bahkan diperkirakan bisa mencapai Rp1,5 miliar. Angka ini tentu sangat besar dan membuat profesi dokter membutuhkan modal pendidikan yang tidak kecil.
Namun, ketika dokter bertugas di daerah terpencil. Dalam kondisi tertentu, kombinasi gaji, tunjangan, insentif daerah dan komponen penghasilan lainnya disebut dapat mencapai Rp100 juta lebih per bulan.
Besarannya tentu bergantung pada status kepegawaian, jenis dokter atau spesialisasi, serta kebijakan daerah dan fasilitas kesehatan.
Contohnya dokter yang bertugas di wilayah kepulauan seperti Wakai, Kabupaten Tojo Una-Una. Selain penghasilan, dalam skema tertentu dokter juga dapat memperoleh fasilitas seperti rumah dinas dan kendaraan dinas untuk mendukung pelayanan.
Jika menggunakan hitungan sederhana, biaya pendidikan sekitar Rp1,5 miliar secara teoritis dapat kembali relatif cepat apabila seorang dokter memperoleh penghasilan Rp100 juta lebih per bulan. Namun, angka tersebut belum memperhitungkan pajak, biaya hidup, masa internship, cicilan, serta kenyataan bahwa tidak semua dokter mendapatkan penghasilan sebesar itu.
Pada akhirnya, tingginya insentif dokter di daerah terpencil bukan semata-mata soal keuntungan. Insentif tersebut merupakan bentuk kompensasi atas tantangan geografis, keterbatasan fasilitas, jarak dari keluarga, sekaligus upaya pemerintah menarik tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil.




