Doti: Ketika Orang Sakit Bisa Membawa Seseorang ke Tiang Hukuman

Buku De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak, yang diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741.
Buku De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak, yang diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741.

BRIOPINI.COM – Orang sakit. Lalu muncul pertanyaan: siapa yang membuatnya sakit? Pertanyaan sederhana itu, dalam catatan seorang misionaris Belanda di Banggai pada awal abad ke-20, bisa berubah menjadi persoalan serius. Jawabannya bukan selalu penyakit. Bisa jadi doti—kekuatan yang dipercaya dapat mendatangkan sakit, kesialan, bahkan kematian.

Alb. C. Kruyt mencatat kepercayaan itu dalam tulisan De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak, yang diterbitkan pada 1932 dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, halaman 727–741.

Kruyt mencatat bahwa sakit dapat dikaitkan dengan hubungan sosial seseorang. Pertengkaran, iri hati, mimpi, bahkan kejadian kecil di sekitar rumah bisa menjadi bagian dari rangkaian kecurigaan.

Seseorang bertengkar dengan tetangganya. Tidak lama kemudian ia jatuh sakit. Kecurigaan pun muncul: jangan-jangan ada doti yang dikirim.

Yang menarik, doti tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang abstrak. Kruyt mencatat rambut, kuku, sisa tembakau, potongan buah yang telah digigit, hingga tanah dari bekas telapak kaki sebagai benda yang dipercaya dapat digunakan dalam praktik tersebut.

Tubuh, dengan demikian, tidak berhenti pada kulit.

Jejak tubuh masih dianggap mempunyai hubungan dengan pemiliknya.

Kepercayaan itu juga melahirkan perlindungan. Kruyt mencatat Balani sebagai kekuatan yang dipercaya dapat menghadang doti. Perlindungan bahkan dapat ditempatkan di sekitar rumah, termasuk di dekat tangga yang dianggap sebagai batas antara ruang keluarga dan dunia luar.

Tetapi persoalan menjadi jauh lebih serius ketika seseorang meninggal.

Kruyt mencatat adanya praktik wichelen, semacam ramalan untuk mencari tahu apakah kematian disebabkan doti dan siapa yang dianggap mengirimkannya. Bahkan jenazah atau peti pembawa jenazah dapat “ditanyai” melalui gerakan yang kemudian ditafsirkan sebagai jawaban.

Dari sini, kepercayaan bisa berubah menjadi tuduhan.

Orang yang dianggap sebagai mian padoti, atau pelaku doti, dapat dikenai denda. Namun menurut catatan Kruyt, dalam keadaan tertentu persoalan dapat berkembang menjadi kekerasan. Ia bahkan menyebut talenga, orang yang disewa untuk melakukan pembunuhan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian.

Di titik inilah kisah doti menjadi menarik untuk dibaca sebagai sejarah sosial.

Sebab persoalannya bukan lagi apakah doti benar-benar mempunyai kekuatan gaib.

Yang penting adalah bagaimana sebuah masyarakat menjelaskan sesuatu yang belum dapat dijelaskan. Ketika penyebab penyakit tidak terlihat, manusia mencari hubungan. Ketika kematian datang tiba-tiba, manusia mencari pelaku.

Dan ketika sebuah nama akhirnya disebut, kecurigaan dapat berubah menjadi hukuman.

Namun catatan Kruyt sendiri harus dibaca dengan jarak sejarah. Ia adalah misionaris dan etnografer Belanda yang bekerja dalam lingkungan kolonial. Istilah dan penilaiannya tidak terlepas dari cara pandang Eropa pada zamannya. Karena itu, De Zwarte Kunst bukan suara terakhir tentang masyarakat Banggai dan Balantak, melainkan sebuah dokumen kolonial yang perlu dibaca sekaligus sebagai catatan pengamatan dan sebagai cermin cara pandang kolonial.

Hampir satu abad kemudian, pertanyaan terpenting dari catatan itu mungkin bukan: benarkah doti bisa membunuh?

Pertanyaannya justru: apa yang terjadi ketika manusia begitu membutuhkan jawaban, sehingga sebuah dugaan berubah menjadi kebenaran—dan sebuah nama berubah menjadi tersangka?

Di situlah sejarah doti menjadi lebih dari cerita tentang ilmu hitam.

Ia adalah cerita tentang ketakutan, kecurigaan, konflik, dan akibat ketika manusia berusaha menemukan penyebab di tengah ketidakpastian.

Sumber: Alb. C. Kruyt, “De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXII, Aflevering 4, 1932, hlm. 727–741.

Pos terkait