12 Fakta Menarik tentang Tanah Mori: Dari Perang Mori hingga Kolonodale, Kota yang Tumbuh dari Pergulatan Sejarah

Orang-orang Eropa di Kolonodale, Morowali Utara pada 1919. (Foto: Museum Budaya Dunia/https://www.varldskulturmuseerna.se)
Orang-orang Eropa di Kolonodale, Morowali Utara pada 1919. (Foto: Museum Budaya Dunia/https://www.varldskulturmuseerna.se)

JAKARTA, BRIOPINI.COM – Kolonodale hari ini dikenal sebagai Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara. Namun lebih dari satu setengah abad lalu, kawasan ini berada di tengah jaringan kerajaan, perdagangan, pelayaran, dan perebutan pengaruh yang membuat pantai timur Sulawesi menjadi salah satu kawasan penting dalam peta kolonial Hindia Belanda.

Nama Kolonodale pun belum selalu ditulis seperti sekarang. Dalam dokumen Belanda kita menemukan bentuk Kolonedale, Kolondale, hingga Kolonédalé. Sementara Mori sering ditulis Tomori atau Tomorie.

Jejaknya tersebar dalam laporan pemerintah, majalah militer, memori pejabat kolonial, hingga dokumen pelabuhan. Dari sana muncul cerita tentang perang, kerajaan, perdagangan, jalan, sekolah, dan sebuah kota yang perlahan berubah menjadi pusat kekuasaan.

Berikut 12 fakta menarik yang dapat ditelusuri dari sumber-sumber lama tersebut.

1. Sebelum ada Kolonodale sebagai kota kolonial, Mori sudah memiliki kekuatan politik

Pada pertengahan abad ke-19, Mori bukanlah kawasan tanpa pemerintahan sebagaimana kesan yang kadang muncul dari narasi kolonial.

Sumber-sumber Belanda menyebut wilayah ini sebagai Tomorie/Tomori, sebuah kerajaan di pantai timur Celebes yang berada dalam lingkungan pengaruh Kesultanan Ternate.

Sebuah laporan militer Belanda tentang ekspedisi 1856 bahkan menggambarkan Tomorie dan Tomboekoe sebagai dua kerajaan di pantai timur Celebes, di sekitar Teluk Tomorie atau Teluk Tolo. (De Paula Lopes)

Penelitian sejarah Esther Velthoen juga menunjukkan bahwa hubungan Mori dengan kawasan sekitarnya tidak sederhana. Perdagangan, wilayah kekuasaan, hubungan dengan Ternate, Bungku, dan komunitas pesisir saling berkelindan.

Artinya, ketika Belanda datang, mereka tidak memasuki ruang politik yang kosong. Mereka memasuki dunia politik yang telah memiliki aturan, penguasa dan jaringan perdagangannya sendiri. (Oxis)

2. Tahun 1856: Belanda sudah mengirim ekspedisi militer ke Tomori

Jauh sebelum penaklukan Mori pada awal abad ke-20, Belanda telah melakukan ekspedisi militer ke kawasan tersebut.

Salah satu sumber primernya adalah tulisan L.H.W.M. de Stuers, “De Expeditie tegen Tomorie, op de Oostkust van Celebes (April–Julij 1856)”, yang diterbitkan dalam Militaire Spectator pada 1856.

Laporan itu memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial memandang konflik Tomori dan Tobungku serta hubungan keduanya dengan Ternate. (De Paula Lopes)

Ekspedisi tersebut juga menunjukkan bahwa Teluk Tomori bukan wilayah yang terisolasi. Kapal-kapal pemerintah Belanda telah memasuki kawasan itu dan berusaha membangun hubungan langsung dengan penguasa setempat. (Scribd)

Dengan kata lain, sejarah kolonial Mori tidak dimulai pada 1907. Jejak intervensi Belanda sudah terlihat lebih dari setengah abad sebelumnya.

3. Mori pernah berada di jalur perdagangan yang diperebutkan

Salah satu alasan penting mengapa kawasan ini menarik perhatian kekuatan luar adalah perdagangan.

Penelitian Velthoen memperlihatkan bahwa konflik antara Tomori dan Tobungku pada abad ke-19 tidak semata-mata persoalan wilayah. Ada persoalan akses terhadap penduduk, sumber daya dan terutama jalur perdagangan. (Scribd)

Karena itu, Teluk Tomori memiliki arti lebih besar daripada sekadar sebuah teluk.

Ia merupakan pintu yang menghubungkan laut, permukiman pesisir dan wilayah pedalaman Mori.

Kelak, posisi geografis inilah yang ikut menjelaskan mengapa Kolonodale berkembang menjadi pusat pemerintahan dan pelabuhan.

4. Pada 1907, Kolonodale mulai muncul sebagai pusat kekuasaan kolonial

Awal abad ke-20 membawa perubahan besar.

H.M. Matthes berangkat ke Kolonodale pada awal Mei 1907. Dalam kajian sejarah Kerajaan Mori, ia disebut mendapat tugas untuk mengawasi pemerintahan serta mendorong para penguasa lokal menyatakan kesetiaan kepada pemerintah Hindia Belanda. (ResearchGate)

Pada periode yang sama, pemerintah kolonial juga mendorong pembangunan berbagai prasarana, termasuk jalan.

Di sinilah kepentingan kolonial mulai bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat Mori.

Kolonodale bukan lagi sekadar nama tempat di teluk. Ia mulai dipersiapkan sebagai pusat administrasi kolonial.

5. Pembangunan Kolonodale ternyata menjadi bagian dari konflik

Salah satu kisah yang paling menarik muncul dalam sumber sejarah lokal yang menggunakan dokumen kolonial dan tradisi Mori.

Dalam narasi tersebut, Belanda meminta Raja Mori, Marunduh Datu ri Tana, mengerahkan rakyat untuk membantu pekerjaan pembangunan Kolonedale.

Namun pembangunan itu berlangsung dalam suasana hubungan yang sudah tegang. Sumber tersebut menggambarkan bagaimana tuntutan pemerintah kolonial terhadap rakyat Mori justru memperbesar ketegangan. (Kemendikdasmen Repository)

Di titik ini, pembangunan kota tidak lagi sekadar soal jalan dan bangunan.

Ia menjadi simbol hadirnya kekuasaan baru.

6. Sebuah pertemuan adat berubah menjadi persoalan serius

Sumber sejarah lokal juga mencatat sebuah kisah yang kemudian terus dikenang dalam narasi perlawanan Mori.

Ketika Letnan Kies dan Matthes datang menemui Marunduh, terjadi peristiwa yang menurut sumber tersebut dianggap melanggar tata krama adat Mori: Kies disebut menjabat tangan permaisuri Raja Mori, Welaina.

Dalam perspektif sumber lokal, tindakan itu dipandang sebagai penghinaan terhadap adat. (Kemendikdasmen Repository)

Namun kisah ini perlu dibaca secara kritis.

Ia berasal dari rekonstruksi sejarah yang memadukan sumber lokal dan kolonial, sehingga tidak semestinya dianggap sebagai fakta tunggal tanpa membandingkannya dengan laporan Belanda mengenai pertemuan tersebut.

Justru di situlah menariknya sejarah: satu peristiwa dapat meninggalkan lebih dari satu ingatan.

7. Juli 1907: pembangunan kota berubah menjadi perang

Ketegangan kemudian pecah.

Sumber-sumber sejarah mengenai Perang Mori mencatat serangkaian serangan terhadap pihak Belanda pada Juli 1907.

Peristiwa tersebut menjadi bagian dari apa yang kemudian dikenal sebagai ekspedisi militer Belanda untuk menundukkan Kerajaan Mori.

Salah satu sumber primer Belanda yang sangat penting adalah tulisan M.W. Siebelhoff, “De Verovering van de Rotsvesting Oesondau in het Rijk Mori op Celebes”, yang terbit dalam Indisch Militair Tijdschrift, 1907, Volume III, halaman 228–236. (Google Books)

Dari sumber ini kita dapat melihat bahwa pasukan Belanda berhadapan dengan komunitas-komunitas yang memiliki struktur kepemimpinan sendiri.

Siebelhoff, misalnya, mencatat adanya sejumlah mokole yang memiliki pengaruh di wilayah Mori. (Oxis)

8. Oesondau menunjukkan bahwa masyarakat Mori memiliki organisasi pertahanan sendiri

Salah satu episode yang dicatat Siebelhoff adalah penaklukan Oesondau/Usundau.

Dalam penelitian Velthoen berdasarkan tulisan Siebelhoff, Oesundau disebut memiliki sekitar 80 rumah yang dibangun dengan baik dan 171 orang bersenjata.

Angka tersebut tentu harus dibaca sebagai laporan kolonial, bukan sensus modern. Tetapi ia memberikan gambaran mengenai ukuran permukiman dan kapasitas pertahanan masyarakat setempat. (Oxis)

Yang menarik, sumber tersebut juga mencatat bahwa setelah Oesundau menyerah, terjadi pembalasan dari pihak lain di kawasan Mori.

Ini menunjukkan bahwa konflik 1907 bukan sekadar cerita sederhana mengenai Belanda melawan satu kerajaan.

Di dalamnya terdapat berbagai kepentingan dan hubungan antarkelompok di Mori.

9. Marunduh Datu ri Tana gugur pada 1907

Perang Mori kemudian mencapai titik menentukan.

Dalam historiografi Indonesia, Marunduh Datu ri Tana, Raja Mori, dikenang sebagai tokoh utama perlawanan terhadap ekspedisi kolonial Belanda.

Tahun 1907 menjadi tahun berakhirnya fase utama perlawanan bersenjata Kerajaan Mori.

Tetapi kemenangan militer Belanda tidak serta-merta menghapus struktur politik lokal.

Justru setelah penaklukan, Belanda harus menemukan cara untuk mengelola masyarakat dan elite lokal Mori melalui struktur pemerintahan baru.

10. Setelah perang, Kolonodale berubah menjadi pusat pemerintahan

Inilah salah satu perubahan terpenting.

Dalam Koloniaal Verslag 1911, Kolonedale secara eksplisit disebut: “de onderafdeelingshoofdplaats van Boengkoe en Mori” atau ibu kota Onderafdeeling Boengkoe dan Mori.

Laporan itu bahkan mencatat pasukan dikirim dari Kolonedale untuk menangani keresahan di wilayah To Pekambia dan kawasan To Wana. (Overheid Repository)

Artinya, hanya beberapa tahun setelah perang, Kolonodale sudah menjadi pusat administrasi, keamanan dan pengendalian wilayah.

Dari kota itu pejabat kolonial bergerak ke daerah-daerah di pedalaman.

11. Kolonodale bukan hanya kantor pemerintah: ia juga pelabuhan perdagangan

Dokumen Hindia Belanda tahun 1920 memperlihatkan Kolonedale dan Onematobe tercatat sebagai pelabuhan di wilayah Mori.

Komoditas yang dicatat untuk Mori antara lain kerbau, kambing, ikan dan teripang. Sementara wilayah tetangganya, Bungku, memiliki komoditas seperti bijih besi dan berbagai hasil kerajinan logam. (Pusat Standar & Kebijakan Pendidikan)

Data ini penting karena menunjukkan bahwa perkembangan Kolonodale tidak hanya didorong oleh pemerintahan.

Ada pula ekonomi maritim.

Barang, hewan dan hasil laut bergerak melalui jaringan pelabuhan.

Kolonodale dengan demikian berada di persimpangan antara kekuasaan administratif dan perdagangan.

12. Pada 1916–1925, Kolonodale sudah digambarkan sebagai kota yang berkembang

Sebuah sumber yang sangat menarik adalah Oosthoek Encyclopedie, yang terbit pada periode 1916–1925.

Entri “Kolonédalé” menyebut tempat ini sebagai kedudukan pejabat pemerintah untuk Onderafdeeling Boengkoe dan Mori, di bagian barat Teluk Tomori.

Jumlah penduduknya diperkirakan sekitar 1.200–1.500 orang, dan disebut terdapat sebuah Inlandsche school atau sekolah pribumi. Sumber tersebut bahkan menggambarkannya sebagai “een welvarende plaats”, sebuah tempat yang makmur. (Ensie)

Bayangkan perubahan yang terjadi hanya dalam beberapa dekade.

Dari kawasan kerajaan yang pernah menghadapi ekspedisi militer Belanda, Kolonodale berkembang menjadi:

pusat pemerintahan — pelabuhan — permukiman — sekolah — dan simpul perdagangan.

Salah satu dokumen paling menjanjikan untuk menggali kehidupan Kolonodale lebih dalam adalah:

K.F. Avink, 1935 — Aanvullende Bestuursmemorie onderafdeling Kolondale.

Dokumen ini tercatat dalam koleksi Memories van Overgave milik Nationaal Archief Belanda. Katalog resminya menyebut dokumen tersebut terdiri atas 12 halaman, meskipun kondisinya tidak lengkap. (Nationaal Archief)

Ini penting karena bestuursmemorie bukan sekadar cerita perjalanan.

Dokumen semacam ini merupakan catatan administratif pejabat kolonial mengenai wilayah yang mereka kelola. Karena itu, ia berpotensi memberi gambaran mengenai penduduk, pemerintahan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hubungan dengan penguasa lokal dan kondisi sosial Kolonodale pada 1930-an.

Dengan kata lain, jika kita ingin mengetahui seperti apa Kolonodale sehari-hari hampir 90 tahun lalu, dokumen Avink adalah salah satu pintu yang sangat menarik untuk dibuka.

Dari Tomori ke Kolonodale

Jika seluruh jejak itu dirangkai, sejarah Kolonodale memperlihatkan sebuah perubahan besar.

Pada 1856, Belanda datang melalui ekspedisi militer ke Tomori. (De Paula Lopes)

Setengah abad kemudian, pada 1907, mereka kembali dengan agenda yang jauh lebih besar: mengintegrasikan Mori ke dalam pemerintahan kolonial. (Google Books)

Kolonodale kemudian menjadi pusat administrasi Boengkoe-Mori. Pada 1911, pejabat kolonial sudah bergerak dari Kolonedale untuk menangani persoalan keamanan di wilayah pedalaman. (Overheid Repository)

Pada 1920, Kolonedale telah tercatat dalam jaringan pelabuhan dengan komoditas perdagangan dari wilayah Mori. (Pusat Standar & Kebijakan Pendidikan)

Dan pada awal dekade 1920-an, sebuah ensiklopedia Belanda menggambarkannya sebagai permukiman berpenduduk sekitar 1.200–1.500 orang dengan sekolah pribumi. (Ensie)

Kolonodale, dengan demikian, bukan sekadar kota yang muncul di peta kolonial. Ia tumbuh di atas lapisan sejarah yang jauh lebih tua: kerajaan Mori, perdagangan Teluk Tomori, hubungan dengan Ternate, perang, perlawanan, dan kemudian administrasi kolonial.

Dan mungkin justru di sanalah cerita terpentingnya.

Sebab di balik nama Kolonodale hari ini, tersimpan berbagai nama lama yang hampir hilang dari ingatan: Tomorie, Mori, Kolonedale, Kolondale, Oesondau, Marunduh, mokole dan tadulako.

Membaca arsip Belanda tentang Kolonodale berarti bukan hanya membaca bagaimana Belanda melihat Mori.

Lebih jauh, kita sedang berusaha melihat kembali dunia Mori sebelum, selama, dan setelah kolonialisme—melalui jejak yang ditinggalkan oleh mereka yang datang untuk menguasainya.

Sumber dan bibliografi

Sumber primer kolonial

  1. De Stuers, L.H.W.M. 1856. De Expeditie tegen Tomorie, op de Oostkust van Celebes (April–Julij 1856). Militaire Spectator, 1856. (De Paula Lopes)
  2. Siebelhoff, M.W. 1907. De Verovering van de Rotsvesting Oesondau in het Rijk Mori op Celebes. Indisch Militair Tijdschrift, Vol. III, hlm. 228–236. (Google Books)
  3. Koloniaal Verslag 1911. Laporan Pemerintah Hindia Belanda mengenai keadaan pemerintahan, termasuk Onderafdeeling Boengkoe en Mori. (Overheid Repository)
  4. Avink, K.F. 1935. Aanvullende Bestuursmemorie onderafdeling Kolondale. Nationaal Archief, koleksi Memories van Overgave, inv. 1214. (Nationaal Archief)
  5. Oosthoek Encyclopedie, entri “Kolonédalé”, edisi 1916–1925. (Ensie)

Kajian sejarah

  1. Velthoen, Esther. 2002. Contested Coastlines: Diasporas, Political Economy and Conflict in Eastern Sulawesi, 1880–1970. Disertasi, University of Washington. Kajian ini sangat berguna karena menggunakan arsip kolonial dan sumber lokal untuk merekonstruksi sejarah politik-ekonomi Sulawesi Timur. (Oxis)
  2. Poelinggomang, Edward L. Kerajaan Mori: Sejarah dari Sulawesi Tengah. Edisi kedua. Kajian sejarah Kerajaan Mori dan proses masuknya pemerintahan kolonial ke wilayah tersebut. (ResearchGate)
  3. La Ode, Rempah, Kolonialisme, dan Kesinambungan Ekonomi di Pantai Timur Pulau Sulawesi. Memanfaatkan antara lain Staatsblad 1920 No. 817 dan Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië, 16 November 1920 No. 34 untuk data pelabuhan dan komoditas. (Pusat Standar & Kebijakan Pendidikan)

Catatan editorial: istilah seperti Tomorie, Kolonedale, Kolondale dan Kolonédalé sengaja dipertahankan ketika merujuk dokumen lama. Bentuk-bentuk tersebut penting karena merupakan ejaan yang digunakan dalam sumber pada zamannya, bukan kesalahan penulisan modern.

 

Pos terkait