Briopini.com – Sudah beberapa hari saya coba menulis ini, tapi belum juga selesai. Bukan karena tidak ada yang mau dikatakan, justru karena terlalu banyak yang ingin saya katakan, sampai saya sendiri bingung harus mulai dari mana. Beberapa hari terakhir perhatian saya malah tersita oleh Piala Dunia, angka-angka peluang tim lolos ke semifinal, hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tapi entah kenapa lebih mudah dipikirkan daripada duduk dan menulis yang sebenarnya saya rasakan.
Setelah itu selesai, pertanyaan ini kembali menghampiri saya: siapa yang rindu Lindu, dan apa yang sebenarnya kita rindukan darinya?
Saya pikir-pikir, mungkin pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan rindu saja.
Rindu itu wajar. Manusiawi. Saya sendiri kadang kangen jalan berlumpur, udara dingin pegunungan, cerita orang tua tentang perjalanan enam jam ke danau dulu. Tapi semakin saya pikirkan, semakin saya sadar, rindu semacam itu kadang lebih tentang diri kita sendiri daripada tentang Lindu dan orang-orang yang tinggal di sana.
Barangkali pertanyaan yang lebih jujur bukan “siapa yang rindu Lindu”, tapi “untuk apa sebenarnya kita datang ke sana”.
Saya bukan orang Lindu. Tapi puluhan tahun lalu saya pernah ikut berdiri bersama mereka, waktu ramai-ramai menolak rencana PLTA Lore Lindu. Sejak itu ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar lepas dari pikiran saya. Izinkan saya berbagi apa yang mengganjal di hati saya.
Kita, orang luar, kadang terlalu sibuk menjaga bayangan tentang tempat itu — biar tetap terasa “asli”, “sunyi”, “belum tersentuh”. Padahal jalan yang bagus, yang memudahkan orang Lindu ke sekolah, ke puskesmas, ke pasar, itu bukan ancaman buat mereka. Itu hak mereka. Tidak adil rasanya kalau kita berharap sebuah kampung tetap terisolasi, hanya supaya kita punya tempat untuk melarikan diri sejenak dari kepenatan kota.
Yang justru menurut saya perlu dikhawatirkan bukan soal jalan sudah beraspal atau belum. Tapi apa yang terjadi setelah jalan itu terbuka.
Saya membayangkan, ketika akses semakin mudah, cara pandang orang terhadap tanah pun ikut berubah pelan-pelan. Tanah yang dulu dipahami sebagai milik bersama, tempat hidup bersama, mulai dilihat sebagai sesuatu yang bisa dijual. Sertifikat mulai menggantikan ingatan. Harga mulai mengalahkan makna.
Dan di situlah, menurut saya, letak yang paling perlu kita jaga bersama.
Bukan cuma soal danau yang indah, tapi soal apakah masyarakat adat masih bisa menjalani hidupnya sendiri, dengan caranya sendiri. Ketika tanah di Suaka Ntodea mulai berpindah tangan, ketika ruang hidup di Suaka Ngata mulai dilepas demi alasan ekonomi, yang hilang bukan sekadar tanah. Yang perlahan hilang adalah ikatan antara manusia, adat, dan tempat — ikatan yang selama ini menjaga mereka tetap menjadi satu masyarakat.
Kalau ini terus dibiarkan, saya khawatir suatu hari nanti nama-nama seperti Wanangkiki, Pangale, Lambara, Suaka Viata hanya tinggal nama. Tanahnya sudah berpagar, bersertifikat, berpindah tangan, dan orang-orang lupa kenapa nama-nama itu dulu penting.
Karena itu saya pikir, kita yang datang ke Lindu sebaiknya tidak datang untuk sekadar mengenang atau berfoto. Datanglah untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat sedang berusaha, dengan caranya sendiri, mempertahankan hidupnya di tengah zaman yang berubah cepat.
Lindu bukan museum yang tinggal dipajang dan difoto. Bukan juga tempat healing sesaat buat kita yang penat. Lindu itu rumah, tempat orang-orang masih memperjuangkan hak mereka atas tanah, atas adat, atas masa depan anak cucu mereka sendiri.
Maka kalau ada perayaan di Lindu, saya berharap itu bukan sekadar festival yang menjual pemandangan danau. Saya berharap itu jadi ruang bagi masyarakat adat untuk menyuarakan haknya, menguatkan hukum adatnya sendiri, dan mewariskan semua itu ke anak-anak mereka.
Kita boleh datang membawa rindu. Tapi saya rasa, kita tidak boleh pulang hanya membawa kenangan. Kita perlu pulang membawa keberpihakan — sekecil apa pun bentuknya. Sebab yang sedang dipertaruhkan di Lindu, saya kira, bukan sekadar keindahan danaunya, tapi keberlangsungan hidup sebuah masyarakat yang berhak menentukan jalannya sendiri.
Penulis : Efendi Kindangen




