MOROWALI, BRIOPINI – Pada 27 April 1856, sebuah armada perang Hindia Belanda bergerak dari Ternate menuju Teluk Tomori. Tujuannya jelas: menyiapkan serangan terhadap Kerajaan Mori di pedalaman Sulawesi Timur.
Di atas kapal uap Vesuvius dan Celebes, pasukan Belanda membawa senjata, amunisi, perlengkapan perang, dan pasukan bantuan dari sejumlah wilayah di Maluku. Mereka juga menarik belasan kora-kora, perahu besar yang membawa pasukan bantuan Alifuru.
Tetapi ekspedisi itu belum sampai ke medan perang. Laut lebih dahulu menghentikannya.
Gelombang besar dan badai menerjang armada. Kapal-kapal yang membawa pasukan dan perbekalan itu terpaksa membatalkan pelayaran dan kembali ke Ternate.
Celebes mengalami kerusakan berat di bagian buritan dan kemudinya patah. Vesuvius mengalami kebocoran pada bagian dasar kapal. Sejumlah besar pasukan bantuan yang diangkut menggunakan kora-kora juga hilang dalam bencana pelayaran tersebut.
Peristiwa ini tercatat dalam sejarah Perang Mori I 1856—sebuah ekspedisi kolonial yang pada akhirnya gagal memaksa Kerajaan Mori menyerah kepada Belanda.
Dari Ternate Menuju Teluk Tomori
Kisah ini bermula dari ketegangan politik yang sudah berlangsung beberapa tahun.
Pada 1853, pemerintah Hindia Belanda menyatakan wilayah pesisir timur Sulawesi sebagai bagian dari wilayah kolonial yang berada di bawah Keresidenan Ternate. Kerajaan Mori menolak tunduk.
Belanda kemudian mulai mencari cara untuk menekan Mori.
Pada April 1856, Gubernur Maluku C.F. Goldman berangkat menggunakan kapal uap Vesuvius menuju Teluk Tomori. Misinya bukan sekadar perjalanan biasa. Ia melakukan pengintaian untuk mengetahui jalur yang dapat digunakan pasukan Belanda menuju pusat Kerajaan Mori.
Goldman bahkan masuk ke Sungai Tompira menggunakan perahu penduduk. Di sinilah ekspedisi mulai menemukan perlawanan.
Menurut laporan yang kemudian dikutip dalam kajian sejarah ekspedisi tersebut, dua anggota marinir Belanda tewas setelah para pendayung perahu melakukan serangan. Goldman sendiri berhasil selamat dan kembali ke Vesuvius.
Belanda membaca peristiwa itu sebagai tanda bahwa Mori sudah mengetahui rencana mereka dan telah menyiapkan pengawasan terhadap jalur masuk menuju wilayah kerajaan.
Bagi pemerintah kolonial, peristiwa itu mempercepat rencana ekspedisi militer.
Armada Perang Disiapkan
Pasukan mulai dikumpulkan. Kapal Celebes datang dari Batavia membawa 34 tentara Belanda dan 180 personel infanteri. Mereka dilengkapi senjata dan mortir. Di Ambon, pasukan tersebut diperkuat.
Komando ekspedisi berada di tangan Mayor E.C.F. Happé, sementara Gubernur Maluku C.F. Goldman menjadi pimpinan ekspedisi. Kapal Vesuvius dikomandani Letnan Laut O.A. Uhlenbeck, sedangkan Celebes dinakhodai Letnan Laut J.E. De Man.
Ketika armada tiba di Ternate, kekuatan ekspedisi bertambah besar. Residen Ternate menyediakan sekitar 700 orang Alifuru. Kerajaan Bungku dan Banggai juga dilibatkan untuk memberikan bantuan.
Pada 27 April 1856, armada meninggalkan Ternate. Vesuvius menarik delapan kora-kora. Celebes menarik enam.
Di atas dan di belakang kapal-kapal itu bergerak iring-iringan pasukan yang hendak dibawa menuju Teluk Tomori.
Mereka belum tahu bahwa perjalanan itu akan berakhir sebelum mencapai Mori.
Laut Mengubah Rencana Perang
Dalam pelayaran menuju Teluk Tomori, cuaca berubah. Gelombang dan badai menghantam armada. Kapal-kapal tidak mampu melanjutkan perjalanan.
Ekspedisi yang dirancang untuk menyerang sebuah kerajaan di daratan justru harus berbalik menghadapi kerusakan armadanya sendiri. Celebes mengalami kerusakan berat pada buritan dan kemudinya patah. Vesuvius mengalami kebocoran di bagian dasar kapal.
Kondisi kora-kora yang ditarik kapal juga menjadi masalah. Sejumlah besar pasukan bantuan yang berada di perahu-perahu tersebut hilang. Armada akhirnya kembali ke Ternate. Rencana serangan ditunda. Kapal-kapal harus diperbaiki sebelum perang bahkan dimulai.
Dalam konteks sejarah maritim kolonial, episode ini menarik karena memperlihatkan betapa bergantungnya ekspedisi militer abad ke-19 terhadap kondisi laut. Keunggulan persenjataan Belanda tidak otomatis berarti mereka dapat mengendalikan medan. Untuk mencapai Mori, mereka terlebih dahulu harus menaklukkan jarak, angin, gelombang dan jalur pelayaran.
Bahkan Kapal Perbekalan Ikut Karam
Badai bukan satu-satunya masalah. Dalam rangkaian pelayaran ekspedisi yang sama, kapal Blora, yang membawa perbekalan untuk pasukan, mengalami kecelakaan di perairan Bungku pada 29 April 1856.
Sebagian muatannya berhasil diselamatkan dan dibawa menuju Teluk Tomori. Dengan demikian, sebelum pasukan Belanda berhadapan dengan pasukan Mori, ekspedisi sudah menghadapi persoalan logistik serius.
Pelayaran bukan sekadar membawa manusia dari Ternate ke Tomori. Kapal-kapal harus mengangkut makanan, amunisi, batu bara, senjata, perlengkapan militer dan berbagai kebutuhan untuk operasi di wilayah yang bagi orang Belanda masih relatif kurang dikenal.
Perang yang Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Setelah diperbaiki, armada kembali bergerak. Pada 20 Mei 1856, ekspedisi kembali berangkat menuju Teluk Tomori. Mereka akhirnya mencapai Pulau Bunga Timbul pada 30 Mei dan menjadikannya pangkalan konsentrasi pasukan. Pulau kecil itu kemudian bahkan dinamai Vesuvius, mengikuti nama kapal perang yang digunakan dalam ekspedisi. Dari sana operasi darat dimulai.
Pasukan Belanda bergerak melalui Tompira. Pada Juni mereka melakukan operasi menuju benteng Ensaondau, salah satu pertahanan penting Kerajaan Mori. Belanda akhirnya berhasil merebut Ensaondau. Tetapi kemenangan itu tidak otomatis membuat Mori menyerah.
Pemerintah kolonial tidak berhasil memaksa Raja Mori Tosaleko menyatakan tunduk kepada Belanda. Bahkan setelah ekspedisi berakhir, Mori tetap mempertahankan kedudukannya sebagai kerajaan yang merdeka.
Kajian Edward L. Poelinggomang menunjukkan bahwa laporan mengenai keberhasilan ekspedisi tersebut sebenarnya problematis. Laporan politik Kementerian Koloni Belanda pada Oktober dan November 1856 justru memberi gambaran bahwa ekspedisi telah menghabiskan biaya besar tanpa mencapai tujuan politik utamanya.
Laporan Belanda Sendiri Membuka Cerita
Salah satu sumber paling penting untuk merekonstruksi ekspedisi ini adalah tulisan L.H.W.M. De Stuers, “De Expeditie tegen Tomorie, op de Oostkust van Celebes (April-Juli 1856)”, yang diterbitkan dalam Militaire Spectator pada 1856. Rujukan bibliografis terhadap laporan tersebut mencatat halaman sekitar 526–527 dan seterusnya.
Ada pula karya A.W.P. Weitzel, Geschiedkundig overzicht van de expeditie naar To Mori, yang kemudian dirujuk dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Catatan biografis Belanda mengenai Mayor Happé juga menyebut secara khusus bahwa ia memimpin ekspedisi ke Mori pada 1856.
Sumber-sumber kolonial itu penting karena memperlihatkan ekspedisi bukan sebagai satu pertempuran tunggal, melainkan sebagai rangkaian operasi: pengintaian, persiapan armada, perekrutan pasukan bantuan, pelayaran, kecelakaan laut, perebutan titik-titik strategis, hingga keputusan menghentikan operasi.
Badai yang Hampir Dilupakan dari Sejarah Perang Mori
Perang biasanya ditulis dari sudut medan pertempuran. Tentara maju, benteng diserbu, raja melawan, lalu bendera dikibarkan. Tetapi dalam ekspedisi Mori 1856, laut memainkan peran yang tidak kalah penting.
Pada 27 April, sebelum pasukan Belanda mencapai pantai Mori, badai telah memaksa mereka mundur. Kapal Celebes rusak. Vesuvius bocor. Kora-kora tercerai. Pasukan bantuan hilang. Dan sebuah kapal perbekalan, Blora, karam beberapa hari kemudian di perairan Bungku.
Ekspedisi itu akhirnya tetap dilanjutkan. Namun rangkaian musibah laut tersebut menjadi pengingat bahwa kolonialisme di Sulawesi tidak bergerak hanya melalui senapan dan meriam. Ia juga bergantung pada kapal, angin, arus, pelabuhan, perbekalan dan pengetahuan tentang laut.
Dan pada suatu pagi di penghujung April 1856, sebelum meriam Belanda diarahkan kepada Mori, laut lebih dahulu memenangkan satu pertempuran.
Sumber utama
- L.H.W.M. De Stuers, “De Expeditie tegen Tomorie, op de Oostkust van Celebes (April-Juli 1856)”, Militaire Spectator, 1856. Rujukan ini digunakan Edward L. Poelinggomang dalam rekonstruksi ekspedisi Mori. (ResearchGate)
- A.W.P. Weitzel, Geschiedkundig overzicht van de expeditie naar To Mori, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (1883). Karya ini tercatat sebagai salah satu sumber sejarah utama mengenai ekspedisi Mori 1856. (DBNL)
- Edward L. Poelinggomang, Kerajaan Mori: Sejarah dari Sulawesi Tengah, khususnya bagian mengenai Perang Mori I dan ekspedisi 1856. Buku tersebut secara rinci mencantumkan perjalanan Vesuvius, Celebes, kora-kora, badai 27 April, kapal Blora, serta operasi di Tompira dan Ensaondau. (ArsipSulteng)
- Arsip dan publikasi kolonial mengenai Banggai, Bungku dan Mori juga telah dihimpun dalam edisi khusus LOBO: Annals of Sulawesi Research, yang mencakup tulisan misionaris dan pejabat kolonial Belanda antara 1854–1908. (LOBO)




