MOROWALI UTARA — Pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) di Desa Ganda-ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, kembali menjadi sorotan masyarakat.
Dari keterangan kepala desa, Dana CSR disebut mencapai Rp8–12 miliar per tahun. Hal ini dipertanyakan warga, terutama karena masih terdapat fasilitas publik yang membutuhkan perhatian, salah satunya plafon SDN di Desa Ganda-ganda yang dilaporkan mengalami kebocoran.
Warga mempertanyakan mengapa perbaikan fasilitas sekolah masih harus mengandalkan anggaran Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, sementara desa disebut menerima dana CSR dalam jumlah besar.
“Harusnya bisa pakai dana CSR karena kasihan anak-anak sekolah,” ujar salah satu orang tua murid, Kamis (3/9/2026).
Persoalan pengelolaan dana CSR tersebut juga telah dilaporkan warga ke Kejaksaan Negeri Morowali Utara. Masyarakat berharap penggunaan dana CSR dapat diperiksa secara transparan, termasuk besaran penerimaan, program yang dibiayai, serta pertanggungjawabannya.
Sementara itu, Kepala Desa Ganda-ganda terpilih sekaligus petahana, Haeruddin Azis, membenarkan dirinya telah diperiksa terkait dana CSR yang masuk ke desa.
Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan media ini, Sabtu malam (5/9/2026).
“Saya sudah dua kali diperiksa di Kejari dan Tipikor juga sudah dua kali,” ujarnya.
Haeruddin menjelaskan, besaran CSR yang diterima desa bergantung pada data produksi atau tonase yang disampaikan perusahaan. Dari 13 perusahaan, saat ini terdapat delapan perusahaan yang masih aktif, sementara dua perusahaan mengelola sendiri dana CSR mereka.
“Perusahaan yang kasih data jumlah tonase ke desa. Dengan dasar itu desa buat invoice penagihan ke perusahaan. Sistemnya seperti itu. Per tahun kisaran Rp8–12 miliar,” jelasnya.
Haeruddin juga menyatakan membuka ruang informasi kepada publik sebagai bentuk kontrol terhadap pengelolaan CSR. Ia mengaku tidak alergi terhadap kritik dan berharap Desa Ganda-ganda ke depan dapat menjadi lebih baik.
Di tengah proses pemeriksaan tersebut, masyarakat kini menunggu keterbukaan mengenai berapa total dana CSR yang diterima dan bagaimana penggunaannya.
Jika dana CSR memang mencapai miliaran rupiah setiap tahun, publik berharap manfaatnya dapat terlihat secara nyata, termasuk untuk mendukung fasilitas pendidikan dan kebutuhan masyarakat Desa Ganda-ganda.




