MOROWALI UTARA โ Tangis dan kebingungan kini menyelimuti keluarga seorang pelajar asal Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Morowali Utara. Setelah harus menerima kenyataan pahit kehilangan mata kanan akibat terkena tembakan senapan angin, keluarga korban kini kembali dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang mencapai sekitar Rp42 juta.
Pelajar berinisial A, siswi kelas III SMK, mengalami insiden saat bermain bersama rekannya. Senapan angin yang digunakan dalam permainan sempat dianggap tidak memiliki peluru. Namun, ternyata senapan tersebut masih mampu melontarkan proyektil dan mengenai bagian mata korban.
Kondisi korban kemudian mengharuskan dirinya menjalani perawatan hingga operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga menghadapi sejumlah hambatan administratif. Salah satunya terkait permintaan kronologis kejadian dari pihak BPJS Kesehatan. Keluarga kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morowali Utara. Kepolisian selanjutnya menerbitkan kronologis kejadian yang diharapkan dapat membantu kelancaran proses pengobatan korban.
Namun, persoalan baru muncul ketika keluarga hendak membawa korban pulang setelah menjalani operasi.
Keluarga mengaku tiba-tiba diberitahukan adanya kewajiban pembayaran dengan rincian sementara mencapai sekitar Rp42 juta. Mereka diberi waktu hingga Jumat, 14 Agustus 2026, untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Padahal, menurut keluarga, korban sebelumnya dirujuk dari Morowali Utara menggunakan ambulans rujukan dan didampingi perawat dari RSUD Kolonodale. Keluarga juga mengaku mendapat informasi bahwa pengobatan korban akan ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
Mastin Lamato, tante korban yang berada di RSUD Wahidin, mengaku kecewa sekaligus bingung dengan kondisi yang mereka hadapi.
โSebenarnya keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Rincian sementara sekitar Rp42 juta. Kami diantar ambulans rujukan dari Morowali Utara dan juga didampingi sama suster pendamping. Disampaikan ke kami ditanggung BPJS Kesehatan,โ ujar Mastin, Kamis (13/8/2026).
Bagi keluarga, persoalan ini terasa semakin berat. Mereka bukan hanya sedang berjuang mencari biaya, tetapi juga berusaha menerima kenyataan bahwa seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah kini harus menjalani hidup tanpa mata kanannya.
Dengan suara penuh harap, keluarga meminta perhatian pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Kondisi pelajar ini ditengah program BERANI Sehat Gubernur Sulteng.
โKalau bisa bantu dulu kami, Pak. Sampaikan ke Pak Gubernur Sulteng dan Pak Bupati Morowali Utara. Kami diberikan waktu sampai besok. Kami punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu. Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi,โ ungkap tante korban.
Sementara itu, orang tua dari pelaku penembakan yang sebelumnya telah sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan juga tengah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.
Mereka mengaku bingung dengan proses rujukan yang diberikan sebelumnya, terlebih keluarga korban menyebut telah mendapat informasi bahwa pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi para orang tua agar semakin ketat mengawasi anak-anak ketika bermain, terutama saat berhadapan dengan benda yang dapat membahayakan keselamatan.
Bagi keluarga A, luka itu bukan sekadar luka akibat sebuah kecelakaan. Mata kanan yang hilang menjadi kenyataan yang harus mereka terima seumur hidup.
Kini, setelah kehilangan penglihatan di satu sisi, keluarga hanya berharap jangan sampai mereka kembali kehilangan harapan karena persoalan biaya.
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Kolonodale terkait persoalan pembiayaan pengobatan korban tersebut.




