Pemimpin “Pae Pulu”

Ket foto: Illustrasi "Pae Pulu" (IST)

Briopini.com- Pemimpin “Pae Pulu”: Kali-Kalinya Tinggi, Bagi-Baginya Rendah.
Dalam bahasa daerah suku Kaili di Palu, “pae pulu” secara harfiah berarti beras pulut atau beras ketan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, istilah tersebut kerap digunakan sebagai sindiran untuk menggambarkan seseorang yang dianggap pelit atau terlalu berat mengeluarkan sesuatu dari miliknya.

Sifat lengket beras pulut kemudian menjadi sebuah perumpamaan: lengket memegang, berat melepaskan.

Dalam konteks kepemimpinan, istilah “pemimpin pae pulu” bisa menjadi kritik sosial terhadap pemimpin yang dinilai sangat berhitung ketika harus mengeluarkan uang dari kantong pribadi, tetapi justru lebih mudah menggunakan anggaran publik untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya masih bisa ditangani secara pribadi.

Bukan berarti setiap pemimpin harus menggunakan uang pribadinya untuk kepentingan masyarakat. Uang negara memang memiliki mekanisme dan aturan penggunaannya. Namun, ketika seorang pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu secara pribadi dalam situasi tertentu, tetapi selalu memilih membebankan segala sesuatu kepada anggaran daerah, di situlah istilah pae pulu menjadi relevan sebagai sebuah sindiran.

Kali-kalinya tinggi, bagi-baginya rendah.
Semua dihitung. Semua diperhitungkan. Ketika menyangkut kepentingan pribadi, kalkulator seakan tidak pernah berhenti.

Tetapi ketika menyangkut anggaran daerah, berbagai program dan pos anggaran justru dicari untuk membiayai sesuatu yang seharusnya tidak selalu harus dibebankan kepada rakyat.
Pemimpin ideal bukanlah pemimpin yang menghamburkan uang pribadi.

Bukan pula pemimpin yang menggunakan uang pribadi untuk menggantikan kewajiban pemerintah.
Tetapi pemimpin seharusnya memiliki kepekaan, kemurahan hati, dan keteladanan.

Sebab masyarakat tidak hanya menilai pemimpin dari seberapa besar anggaran yang berhasil dikelola, tetapi juga dari seberapa besar hati pemimpin ketika berhadapan dengan kebutuhan rakyat.

Pada akhirnya, “pae pulu” bukan sekadar soal pelit atau tidak pelit.

Ia adalah sindiran tentang karakter kepemimpinan: seberapa erat seseorang menggenggam miliknya, dan seberapa ringan tangannya ketika berbagi untuk kepentingan orang lain.

Karena pemimpin yang terlalu “lengket” dengan hartanya, jangan sampai justru terlalu “ringan” menggunakan uang rakyat.

Pos terkait